Perjuangan Melawan
Penjajahan Belanda
Monopoli perdagangan, kerja paksa, penarikan
pajak, sewa tanah, dan tanam paksa menimbulkan banyak kerugian dan membuat
sengsara rakyat Indonesia. Rakyat Indonesia tidak tahan lagi. Rakyat Indonesia
melakukan perlawanan memperjuangkan martabat dan kemerdekaannya. Dari seluruh
penjuru tanah air timbul perlawanan terhadap penjajah Belanda.
a. Perlawanan Terhadap VOC
Pada
saat VOC berkuasa di Indonesia terjadi beberapa kali perlawanan. Pada tahun
1628 dan 1629, Mataram melancarkan serangan besar-besaran terhadap VOC di
Batavia. Sultan Agung mengirimkan ribuan prajurit untuk menggempur Batavia dari
darat dan laut. Di Sulawesi Selatan VOC mendapat perlawanan dari rakyat
Indonesia di bawah pimpinan Sultan Hassanuddin. Perlawanan terhadap VOC di
Pasuruan Jawa Timur dipimpin oleh Untung Suropati. Sementara Sultan Ageng
Tirtayasa mengobarkan perlawanan di daerah Banten.
b. Perlawanan Pattimura (1817)
Belanda
melakukan monopoli perdagangan dan memaksa rakyat Maluku menjual hasil
rempah-rempah hanya kepada Belanda, menentukan harga rempah-rempah secara
semena-mena, melakukan pelayaran hongi, dan menebangi tanaman rempahrempah
milik rakyat. Rakyat Maluku berontak atas perlakuan Belanda. Dipimpin oleh
Thomas Matulessi yang nantinya terkenal dengan nama Kapten Pattimura, rakyat
Maluku melakukan perlawanan pada tahun 1817. Pattimura dibantu oleh Anthony
Ribok, Philip Latumahina, Ulupaha, Paulus Tiahahu, dan seorang pejuang wanita
Christina Martha Tiahahu. Perang melawan Belanda meluas ke berbagai daerah di
Maluku, seperti Ambon, Seram, Hitu, dan lain-lain.
Belanda
mengirim pasukan besarbesaran. Pasukan Pattimura terdesak dan bertahan di dalam
benteng. Akhirnya, Pattimura dan kawan-kawannya tertawan. Pada tanggal 16
Desember 1817, Pattimura dihukum gantung di depan Benteng Victoria di Ambon.
c. Perang padri (1821-1837)
Perang
Padri bermula dari pertentangan antara kaum adat dan kaum agama (kaum Padri).
Kaum Padri ingin memurnikan pelaksanaan agama Islam. Gerakan Padri itu
ditentang oleh kaum adat. Terjadilah bentrokan-bentrokan antara keduanya.
Karena terdesak, kaum adat minta bantuan kepada Belanda. Belanda bersedia
membantu kaum adat dengan imbalan sebagian wilayah Minangkabau.
Pasukan
Padri dipimpin oleh Datuk Bandaro. Setelah beliau wafat diganti oleh Tuanku
Imam Bonjol. Pasukan Padri dengan taktik perang gerilya, berhasil mengacaukan
pasukan Belanda. Karena kewalahan, Belanda mengajak berunding. Pada tahun 1925
terjadi gencatan senjata. Belanda mengakui beberapa wilayah sebagai daerah kaum
Padri.
Perang
Padri meletus lagi setelah Perang Diponegoro berakhir. Tahun 1833 terjadi
pertempuran hebat di daerah Agam. Tahun 1834 Belanda mengepung pasukan Bonjol.
Namun pasukan Padri dapat bertahan sampai dengan tahun 1837. Pada tanggal 25
Oktober 1837, benteng Imam Bonjol dapat diterobos. Beliau tertangkap dan
ditawan.
d. Perang Diponegoro (1825-1830)
Perang
Diponegoro berawal dari kekecewaan Pangeran Diponegoro atas campur tangan
Belanda terhadap istana dan tanah tumpah darahnya. Kekecewaan itu memuncak
ketika Patih Danureja atas perintah Belanda memasang tonggak-tonggak untuk
membuat rel kereta api melewati makam leluhurnya.
Dipimpin
Pangeran Diponegoro, rakyat Tegalrejo menyatakan perang melawan Belanda tanggal
20 Juli 1825. Diponegoro dibantu oleh Pangeran Mangkubumi sebagai penasehat,
Pangeran Ngabehi Jayakusuma sebagai panglima, dan Sentot Ali Basyah
Prawiradirja sebagai panglima perang. Pangeran Diponegoro juga didukung
oleh para ulama dan bangsawan. Daerah-daerah lain di Jawa ikut berjuang melawan
Belanda. Kyai Mojo dari Surakarta mengobarkan Perang Sabil.
Antara
tahun 1825-1826 pasukan Diponegoro mampu mendesak pasukan Belanda. Pada tahun
1827, Belanda mendatangkan bantuan dari Sumatra dan Sulawesi. Jenderal De Kock
menerapkan taktik perang benteng stelsel. Taktik ini berhasil mempersempit
ruang gerak pasukan Diponegoro. Banyak pemimpin pasukan Pangeran Diponegoro
gugur dan tertangkap. Namun demikian, pasukan Diponegoro tetap gigih. Akhirnya,
Belanda mengajak berunding. Dalam perundingan yang diadakan tanggal 28 Maret
1830 di Magelang, Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda. Beliau diasingkan dan
meninggal di Makassar.
e. Perang Banjarmasin (1859-1863)
Penyebab
perang Banjarmasin adalah Belanda melakukan monopoli perdagangan dan mencampuri
urusan kerajaan. Perang Banjarmasin dipimpin oleh Pangeran Antasari. Beliau
didukung oleh Pangeran Hidayatullah. Pada tahun 1862 Hidayatullah ditahan
Belanda dan dibuang ke Cianjur. Pangeran Antasari diangkat rakyat menjadi
Sultan. Setelah itu perang meletus kembali. Dalam perang itu Pangeran Antasari
luka-luka dan wafat.
f. Perang Bali (1846-1868)
Penyebab
perang Bali adalah Belanda ingin menghapus hukum tawan karang dan memaksa
Raja-raja Bali mengakui kedaulatan Belanda di Bali. Isi hukum tawan karang
adalah kerajaan berhak merampas dan menyita barang serta kapal-kapal yang
terdampar di Pulau Bali. Raja-raja Bali menolak keinginan Belanda. Akhirnya,
Belanda menyerang Bali.
Belanda
melakukan tiga kali penyerangan, yaitu pada tahun 1846, 1848, dan 1849. Rakyat
Bali mempertahankan tanah air mereka. Setelah Buleleng dapat ditaklukkan,
rakyat Bali mengadakan perang puputan, yaitu berperang sampai titik darah
terakhir. Di antaranya Perang Puputan Badung (1906), Perang Puputan Kusumba
(1908), dan Perang Puputan Klungkung (1908). Salah saut pemimpin perlawanan
rakyat Bali yang terkenal adalah Raja Buleleng dibantu oleh Gusti Ketut
Jelantik.
g. Perang Sisingamangaraja XII
(1870-1907)
Pada
saat Sisingamangaraja memerintah Kerajaan Bakara, Tapanuli, Sumatera Utara,
Belanda datang. Belanda ingin menguasai Tapanuli. Sisingamangaraja beserta
rakyat Bakara mengadakan perlawanan. Tahun 1878, Belanda menyerang Tapanuli.
Namun, pasukan Belanda dapat dihalau oleh rakyat.
Pada
tahun 1904 Belanda kembali menyerang tanah Gayo. Pada saat itu Belanda juga
menyerang daerah Danau Toba. Pada tahun 1907, pasukan Belanda menyerang kubu
pertahanan pasukan Sisingamangaraja XII di Pakpak. Sisingamangaraja gugur dalam
penyerangan itu. Jenazahnya dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan ke
Balige.
h. Perang Aceh (1873-1906)
Sejak
terusan Suez dibuka pada tahun 1869, kedudukan Aceh makin penting baik dari
segi strategi perang maupun untuk perdagangan. Belanda ingin menguasai Aceh.
Sejak tahun 1873 Belanda menyerang Aceh. Rakyat Aceh mengadakan perlawanan di
bawah pemimpin-pemimpin Aceh antara lain Panglima Polim, Teuku Cik
Ditiro, Teuku Ibrahim, Teuku Umar, dan Cut Nyak Dien.
Meskipun
sejak tahun 1879 Belanda dapat menguasai Aceh, namun wilayah pedalaman dan
pegunungan dikuasai pejuang-pejuang Aceh. Perang gerilya membuat pasukan
Belanda kewalahan. Belanda menyiasatinya dengan stelsel konsentrasi, yaitu
memusatkan pasukan supaya pasukannya dapat lebih terkumpul.
Belanda
mengirim Dr. Snouck Hurgronje untuk mempelajari sistem kemasyarakatan penduduk
Aceh. Dari penelitian yang dibuatnya, Hurgronje menyimpulkan bahwa kekuatan
Aceh terletak pada peran para ulama. Penemuannya dijadikan dasar untuk membuat
siasat perang yang baru. Belanda membentuk pasukan gerak cepat (Marchose) untuk
mengejar dan menumpas gerilyawan Aceh. Dengan pasukan marchose Belanda berhasil
mematahkan serangan gerilya rakyat Aceh. Tahun 1899, Teuku Umar gugur dalam
pertempuran di Meulaboh. Pasukan Cut Nyak Dien yang menyingkir ke hutan dan
mengadakan perlawanan juga dapat dilumpuhkan.
asagenerasiku.blogspot.com/.../ perjuangan-rakyat-melawan-penjajah.html
99sejarah.blogspot.com/2013/12/ perjuangan-melawan-penjajah.html
asagenerasiku.blogspot.com/.../
99sejarah.blogspot.com/2013/12/
0 komentar:
Posting Komentar